Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

JASA PENGETIKAN ARAB - INGGRIS - INDONESIA

Bagi Anda yang super sibuk, 
Tidak sempat mengetik tugas-tugas Anda? 
Atau kesulitan dalam mengetik tulisan Arab - Inggris?
Kami punya solusi tepat untuk Anda! 
Jasa Pengetikan "SAHABAT ANDA" menerima pengetikan baik berbahasa indonesia, inggris maupun arab untuk pembuatan buku pelajaran, penyelesaian tugas akhir/skripsi, naskah pidato, atau yang lainnya.
Anda tidak perlu khawatir jarak, ruang dan waktu menghalangi. Melalui kecanggihan teknologi saat ini Anda bisa mengirimkan skrip yang akan diketik melalui via email atau facebook. Proses pembayaran dapat pula dilakukan via rekening. Anda percaya, Kami Percaya. Berbasis kepercayaan, semua akan berjalan lancar.

Poin-poin yang perlu diperhatikan:
- Naskah yang akan diketik harus jelas/mudah dibaca (hard copy dapat berupa tulisan tangan, scan, atau foto)
- Biaya pengetikan:
          1. Berbahasa Indonesia Rp. 3000,- per lembar (Ukuran kertas A4 Margin: 4,3,3,3 font: Times New Roman 12, spasi 1) 
          2. Berbahasa Inggris Rp. 5.000,- per lembar (Ukuran kertas A4 Margin: 4,3,3,3 font: Times New Roman 12, spasi 1) 
          3. Berbahasa Arab non Harokat Rp. 7.000,- per lembar, Arab Pegon atau dengan Harokat Rp. 10.000 Per Lembar ((Ukuran kertas A4 Margin: 4,3,3,3 font: traditional Arabic 18, spasi 1,5)
- Proses pengerjaan paling lambat 2 hari maks 10 lembar. 

Hal-hal yang lain bisa dibicarakan secara langsung. Hubungi kami di email: tiena91.sh@gmail.com
atau alamat FB: Tiena Siska Hardiansyah atau Telp kami di 085649678623 (Tina) atau datang langsung di kediaman kami: Jl. Karangrejo Gang 5 nomer 27 Wonokromo - Surabaya. 

Pengetikan dikerjakan oleh alumni pendidikan bahasa arab yang memiliki dasar bahasa inggris yang juga bagus. Dijamin Anda tidak akan kecewa. 





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jasa Tak Terbalas


Terima kasih sebanyak-banyaknya, thank you very much, syukron jazilan, jazakumullah ahsanal jaza’, entah kata apa yang patut untuk ku persembahkan bagi kalian semua, terutama bagimu Ibu. Lagi-lagi, sebagai anak aku hanya bisa merepotkan dan merepotkanmu.

Sekarang aku telah bersuami, aku telah memiliki keluarga kecil yang aku cintai dan kasihi. Namun, sebahagia apapun aku hari ini, semua tak lepas dari campur tangan kalian semua. Kini, keluarga kecilku telah dikaruniai seorang malaikat kecil pembawa berkah dan bahagia. Tak ku bayangkan, bagaimana kehidupanku jika tanpa kalian. Ya, insyaallah aku dan suamiku akan mampu menghadapi apapun kenyataan yang harus kami hadapi meski berdua, tapi... tentu semua tak akan seringan dan segampang saat kalian ada untuk kami. Saat-saat aku akan melahirkan, kalian semua saudara-saudaraku siap siaga, 24 jam stand by untukku melebihi diriku sendiri. Ketika buah hatiku telah lahir ke dunia ini, kalian juga selalu ada untuk kami, membantu kami untuk merawatnya hari demi hari. Bahkan di sela-sela kesibukan pribadi, kalian masih menyempatkan untuk turut mengurusi kami. Segala perhatian dan kasih sayang kalian curahkan untuk malaikat kecil kami.
Mengandung lalu melahirkan seorang anak manusia berlanjut pada merawatnya merupakan tugas berat sekaligus mengesankan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang perempuan. Mengapa perempuan? Bukan maksudku untuk menafikan keberadaan dan peran penting seorang laki-laki. Justru dukungan, perhatian dan dorongan darinya adalah kekuatan tersendiri bagi seorang perempuan.  
Kegiatan utama seorang bayi di bulan-bulan pertamanya adalah menyusu, buang air kecil – besar, menangis dan tidur. Normalnya seorang bayi akan minta menyusu sebanyak 8 – 12 kali dalam 24 jam atau setiap 2 jam sekali. Namun ada juga yang tiap jam atau 30 menit sekali sudah minta menyusu. Hal ini tergantung pada kebutuhan bayi, karena masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Intinya, jika Dek Bay menangis bukan karena pipis, BAB, minta digendong atau sakit berarti besar kemungkinan ia minta disusui. Maka tugas seorang ibu adalah tidak abai terhadap kebutuhan utama bayi ini.
Padahal, di samping tugas utama ini, seorang ibu masih memiliki seambrek tugas lain yang menanti. Peristiwa kebanyakan yang terjadi, segala pekerjaan rumah tangga adalah tugas seorang perempuan. Maka meski memiliki amanah baru yang super penting; menyusui anak, sang ibu masih harus mencuci popok si kecil yang setiap harinya bisa 2 hingga 3 ember. Ia juga masih harus memasak untuk keluarganya, membersihkan rumah dan pernak-pernik tugas rumah lainnya. Jarang laki-laki yang mau turut peduli terhadap apa yang dihadapi perempuan ini. Kebanyakan mereka hanya tahu beres. Bahkan setelah melakukan sedemikian banyak pekerjaan di siang hari, seorang perempuan masih harus terjaga sepanjang malam demi Dek Bay karena mayoritas bayi di bulan-bulan pertama kehidupannya seringkali mengalami kolik. Ia akan tidur pulas di siang hari namun terjaga di sepanjang malam. Bahkan sebagian bayi ada yang rewel dan tak berhenti menangis. Maka seorang perempuan harus terjaga, menghibur Dek Bay, menggendongnya ke sana kemari agar ia tidak rewel dan berharap si kecil segera tidur agar ibu bisa mengistirahatkan badannya sejenak.
Alangkah ringan dan bahagianya jika di saat-saat berat itu seorang laki-laki terutama suami mau turut serta membantu. Jika tidak bisa membantu menggendong atau menidurkan si kecil, setidaknya ia menemani sang ibu untuk turut terjaga, memperhatikan apa-apa yang dibutuhkan sang ibu saat menyusui, menanyakan jikalau ibu lapar dan ingin diambilkan minuman, makanan atau mungkin ingin disuapi. Dukungan yang demikian dapat membuat ibu terhindar dari kelelahan baik psikis maupun psikologis.
Sebagaimana yang ku alami, di minggu-minggu pertamanya, si kecil seringkali mengajakku untuk terus terjaga sepanjang malam. Beruntung ia tak begitu rewel, hanya saja ia minta terus untuk digendong. Tak dapat kubayangkan apa jadinya aku tanpa ada sanak saudara yang turut membantuku mengatasi semua ini. Ba’da maghrib hingga jam 10 malam biasanya sanak saudara sekitar datang untuk berkumpul di rumahku menunggui si kecil, sedang aku, ibuku dan nenekku terkadang juga kakekku tidur lebih awal karena di malam hari setelah sanak saudara pulang kami bertiga secara bergilir berjaga untuk menimang-nimang si kecil hingga ia dapat tertidur dengan nyenyak. Biasanya ia akan tidur nyenyak setelah pukul 03.00 dini hari dan terkadang hingga fajar menjelang. Setelah matahari menyingsing, si kecil akan tertidur pulas, ia akan terbangun hanya jika pipis, BAB atau menyusu, selebihnya aku bisa melakukan banyak hal. Namun, di siang hari aku tak memiliki banyak tugas rumah karena semua-muanya telah dikerjakan oleh ibu dan nenekku. Aku hanya perlu merawat si kecil dengan baik, itu saja. Sekali lagi, betapa berterimakasihnya aku kepada keluargaku.
Tak berapa lama lagi perjuanganku dan suamiku sebagai orang tua akan benar-benar dimulai. Saat usia si kecil memasuki bulan ke empat, aku akan mengajaknya untuk ke Surabaya, mengikuti sang ayah yang tengah bekerja di sana. Maka kami harus belajar mandiri dan tidak terlena oleh kenyamanan kami selama berada di tengah-tengah keluarga dekat. Aku dan suamiku akan menjadi tim yang sangat koordinatif dalam merawat buah hati kami, kami akan memulai menikmati indahnya berkeluarga, indahnya berumahtangga dengan segala pernak-perniknya. Cukup sudah kami merepotkan sanak saudara. Kini saatnya kami belajar mandiri. Terima kasih semua.. jasa kalian tak terbalaskan. Jazakumullah khoirol jaza’.... amiin yaa robbal alamin.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAHAGIANYA MENJADI IBU

Pantaslah mengapa Islam mengkategorikan mati saat melahirkan sama dengan mati syahid layaknya kematian tentara Allah di medan perang. Sebuah perjuangan besar yang menjadi kodrat setiap perempuan. Bukan hanya proses melahirkan. Namun sejak masa kehamilan, melahirkan, menyusui dan merawat anak. Begitu banyak perubahan terjadi pada diri seorang perempuan.
Di usia trimester pertama kehamilan, mayoritas mereka mengalami mual-mual dan tubuh lemas. Tak jarang dari mereka harus bermalam beberapa hari di Rumah Sakit untuk mendapatkan cairan pengganti makanan masuk melalui infus. Hal itu karena mereka tak mampu menelan kecuali kembali muntah, bahkan jika itu air putih. Di usia trimester kedua semua terasa lebih baik. Makan mulai enak, bepergian atau bekerja sudah tak sekhawatir trimester pertama. Lalu memasuki usia kehamilan trimester ketiga, badan mulai terasa pegal-pegal, mudah lelah, sulit tidur dengan segala posisi, dan sulit melakukan aktivitas normal sebagaimana sebelum masa kehamilan oleh karena perut yang kian membesar. Belum lagi berbagai kekhawatiran yang seringkali meliputi calon ibu tentang kondisi malaikat kecil dalam rahimnya. Segala apa yang dilakukan dan dikonsumsi harus ekstra hati-hati, karena apapun yang calon ibu lakukan dan konsumsi memberikan pengaruh kepada Dek Bay.
Saat usia kandungan memasuki bulan ke sembilan, Ibu merasa sangat bahagia disertai rasa was-was. Berbagai pertanyaan melintas, menari-nari dalam benak, ”Kapan anakku akan lahir, menikmati hangatnya sinar mentari pagi? Kapan aku bisa memeluk tubuh mungilnya?” ”Semoga malaikat kecilku lahir dalam keadaan sehat dan sempurna” adalah doa yang tiada henti selalu dipanjatkannya; berharap yang terbaik untuk buah hati.
Detik-detik menjelang kelahiran, rasa sakit mulai mendera secara perlahan. Istilahnya calon ibu mengalami kontraksi dengan munculnya rasa sakit di bagian pinggang dan keluarnya air ketuban secara perlahan. Seiring dengan rasa sakit yang kian bertambah, bertambah pula proses pembukaan bagi jalan si bayi untuk lahir ke dunia. Hingga pembukaan sampai pada angka ke sepuluh, maka Dek Bay siap untuk meluncur dengan tangisan pertamanya. Calon Ibu dengan segenap tenaga dan napas terengah mengejan berusaha mendorong Dek Bay keluar dengan selamat.
Namun, tidak semua proses melahirkan berjalan selancar yang diinginkan. Adakalanya berbagai kendala dihadapi oleh calon Ibu. Sebagaimana yang penulis alami, proses kelahiran si Kecil terhitung memiliki sedikit kendala. Ia lahir dua hari pasca HPL. Jum’at, 16 Oktober 2015 tepatnya pukul 03.00 dini hari, aku merasakan cairan merembes, yang ternyata itu adalah air ketuban. Sesampainya di Rumah Sakit, disarankan agar aku langsung diinfus untuk disuntikkan cairan penghambat merembesnya air ketuban oleh karena pembukaan baru berada pada tingkat pertama (bukaan satu). Perawat menyarankan untuk mengambil kamar dan menunggu reaksinya hingga pukul 16.00 WIB. Pada pukul itu, aku kembali dibawa ke ruang bersalin untuk dievaluasi. Ternyata hasilnya nihil. Pembukaan tetap ada pada angka satu.
Perawat, sesuai saran dokter Arif (Dokter spesialis kandungan di Ponorogo) menawarkan untuk drip atau operasi. Karena posisi kepala bayi yang sudah berada pada jalan yang seharusnya, aku optimis dapat melahirkan secara normal dan mengambil pilihan drip. Selang beberapa waktu pasca cairan drip dipasangkan melalui infus, calon ibu merasakan adanya kontraksi yang benar-benar menguras tenaga. Di tahap-tahap awal, calon ibu masih mampu menahan untuk tidak merintih dan hanya menikmatinya dengan sedikit meringis, semakin lama dan semakin lama, rasa sakit semakin bertambah seiring kian banyaknya tetesan cairan drip yang masuk ke dalam tubuhku. Lewat tengah malam aku merasakan kian sulit untuk sekedar bernapas pendek. Suami, Ibuk, Paklek, Bulek, dan Mbak yang menunggui seakan turut merasakan sakitnya. Tak satu pun dari mereka yang sempat untuk sekedar memejamkan mata atau mengistirahatkan tubuh. Semua tegang. Perawat mensupport ku untuk terus mengambil napas panjang secara perlahan dan terus berulang, karena hanya itu satu-satunya cara mengurangi rasa sakit.
Hingga adzan subuh berkumandang, kontraksi masih terus berlanjut. Perawat datang untuk mengecek. Dan ternyata baru sampai pada bukaan empat sedang air ketuban sudah habis dan aku kehabisan tenaga. Maka tanpa permisi perawat memutuskan untuk melakukan prosedur selanjutnya, ”Siapkan perlengkapan operasi. Hubungi dokter bersangkutan. Pasien akan operasi tepat pukul 06.00 WIB. Pihak suami dimohon ke meja administrasi untuk tanda tangan!” Sontak aku menangis tersedu, bukan karena menyesal memilih jalan drip dan merasakan sakit, bukan pula merasa sia-sia telah berjuang sehari semalam untuk melahirkan normal, namun aku benar-benar merasakan betapa hebat proses kelahiran manusia ke dunia ini. Betapa semua adalah takdir Tuhan yang tak terelakkan.
Mendengar instruksi operasi, spontan para perawat mulai bekerja dengan cekatan. Cairan drip dilepas, kateter urin dipasang, pakaian operasi dikenakan, dan tubuh dipindahkan ke transfer bed untuk dibawa ke ruang operasi. Decit roda transfer bed terdengar begitu menyeramkan. Ruang operasi terasa sangat jauh dari kamar bersalin. Perawat mendorong setengah berlari. Sakit akibat kontraksi masih mendera. Dan begitu banyak mata memandang, menyaksikanku didorong menuju ruang operasi sembari meringis menahan sakit. ”O Tuhan, ini adalah kali pertama aku akan dioperasi.” pikirku dalam benak.
Sesampainya di ruang operasi, perawat yang mendorong kembali ke ruang bersalin. Aku dibiarkan menunggu dokter yang bertanggungjawab datang. 30 menit menunggu akhirnya asisten dokter yang bertugas datang. ”Ayo Bu, silahkan pindah ke meja operasi.” perintahnya sembari mondar-mandir menyiapkan peralatan operasi. Aku tak juga beranjak dan hanya meringis kesakitan di atas transfer bed. ”Ayo Bu segera pindah, dokternya keburu datang. Biar ibu segera dibius dan tidak lagi merasakan sakit.” ulangnya masih sambil mondar-mandir.
”Andai mampu, sudah sedari tadi saya pindah Pak. Tapi tubuh tak kuasa.” Batinku pedih. Beberapa saat ketika kontraksi sedikit mereda, ku kumpulkan tenaga dan mencoba merangkak pindah ke meja operasi. Melihat tubuhku yang lemah tak berdaya, Asdok pun langsung membantuku untuk pindah. Lalu aku didudukkannya dan disuntikkan bius di bagian pinggang. 3 kali suntikan membuat sebagian tubuhku mati rasa. Dingin merambat dan terus merambat. Aku ditelentangkan, kedua tangan dibentangkan ke kiri dan kanan. Pada keduanya dipasang infus dan persiapan transfusi darah kalau-kalau aku membutuhkannya. Kedua kaki dan paha juga disuntik bius. 3 dokter yang akan mengoperasi datang; spesialis kandungan, spesialis anak dan spesialis amnesti. ”Ibu Tina, sudah berusaha normal sebisa mungkin, tapi apa boleh buat. Dalam proses kelahiran yang paling penting bukanlah normal atau operasi namun bayi dan ibu keduanya selamat. Siap dioperasi ya Bu?” ucap Dokter Arif terdengar sabar dan menenangkan. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan penuh kepasrahan semoga semua berjalan lancar.
Bagian dada ke atas ditutup. Aku tak bisa menyaksikan proses operasi namun dapat merasakan bagian perut seperti ditekan-tekan. Aku juga dapat mendengar suara gemerincing alat operasi dan berbagai guyonan yang diobrolkan oleh para dokter. Tiba-tiba air mata kembali mengalir deras dari kedua mataku. ”O Tuhan... meskipun melewati proses operasi, bukankah aku tetap menjadi seorang ibu?” Ada sedikit rasa tertekan menyelinap dalam benakku.
Tangis pun kian membuncah saat terdengar tangis pertama si kecil memecah kesunyian, meramaikan ruang operasi. Rasa haru, bahagia, penasaran, semua berpadu menjadi satu rasa yang tak terungkapkan. ”Selamat ya Bu, bayinya laki-laki. Sempurna dan sehat.” Ucap dokter Arif. Lalu si kecil langsung dibawa ke ruang bayi, sedangkan aku masih harus menyelesaikan proses operasi. Pukul 07.30 WIB aku dibawa keluar dari ruang operasi menuju sebuah ruang pasca operasi. Proses penghilangan bius pun dilakukan. Pukul 09.30 WIB keluargaku dipanggil untuk membawaku ke kamar inap. Keluarga yang menunggu tersenyum lebar menyambutku sebagai Ibu baru. Ucapan selamat dan pelukan hangat kian menambah suasana haru. Terima kasih untuk suamiku tercinta, ibuk, paklek, bulek, mbak dan semua keluarga yang turut menguatkanku.
Pukul 12.30 setelah pengaruh bius sudah berkurang banyak, si kecil diantarkan ke ruang inap untuk menyusu kepadaku... subhanallah... walhamdulillah... kebahagiaan menjadi seorang ibu melenyapkan segala keluh, kesah dan sakit yang sempat dirasakan.
Ibu, dulu seperti ini kau melahirkanku. Kini, aku merasakannya, dan bagi setiap anak, mari patuh kepada orang tua kita, terutama IBU. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS