Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kerja Kelompok, Masih Relevankah?

>

Tugas kelompok merupakan hal yang sering dilakukan dalam proses belajar-mengajar. Pasalnya, secara teori banyak dampak positif dari aplikasi belajar kelompok. Namun, dalam pengamatan penulis, sejauh ini hal yang seringkali membuat seseorang jengkel adalah saat mengerjakan tugas kelompok dan pada akhirnya hanya satu orang saja yang harus mengerjakannya. Itupun setelah melalui proses eyel-eyelan yang panjang. Semua beralasan tidak pahamlah, sibuklah, banyak yang harus dikerjakan, inilah, itulah dan seterusnya sehingga hasil yang didapatkan pun tidak maksimal karena asal-asalan dalam mengerjakannya.  Pada akhirnya peristiwa yang terus berulang ini membawa penulis pada sebuah kesimpulan, bahwa tugas kelompok tidaklah lagi relevan diterapkan dalam sebuah pembelajaran. Jika guru/dosen menginginkan adanya tukar pendapat dan saling berdiskusi satu sama lain antar individu dalam kelompok untuk memperluas wawasan, nyatanya berapa persen yang benar-benar demikian?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Manusia (Perspektif Sejarah)


Makhluk Tuhan yang mulia, dibekali ruh ilahiyah, hati dan akal untuk menjalani kehidupan di muka bumi sebagai kholifatullah fil ardh. Yang sangat potensial untuk menjadi mulia setaraf malaikat, pun sebaliknya turun derajat setaraf asfala saafiliin, layaknya binatang. Banyak pendapat mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Sejatinya tidaklah demikian. Dalam firmanNya yang mulia, Qs. al-Baqoroh: 33 telah jelas bahwa Adam bukanlah manusia pertama. Lebih jelasnya simak ayat berikut:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dari ayat tersebut, nyatalah ada makhluk penghuni bumi sebelum Adam; makhluk yang gemar berbuat onar, kerusakan dan mencintai pertumpahan darah. Sehingga saat Tuhan mengabarkan I’tikadNya untuk menciptakan kholifatullah fil Ardh, malaikat protes “Mengapa hendak Engkau ciptakan makhluk yang hanya akan merusak bumi dan menumpahkan darah?” Ini  semakin menguatkan adanya makhluk penghuni bumi sebelum Adam yang suka berbuat onar. Mengenai siapa makhluk sebelum Adam inilah yang menjadi pokok bahasan di sini. Bahwa mereka dikenal dengan sebutan banuu jan; yang nantinya menjadi nenek moyang para jin. Mereka dicipta dari api. Sedang manusia dicipta dari tanah, di mana dalam tanah sendiri termuat anasir; air, angin dan api. Ketika unsur air paling dominan maka manusia akan cenderung dikuasai sifat erotis. Sedang ketika unsur angin yang dominan, ia akan cenderung suka berhayal. Dan ketika manusia mampu menyeimbangkan anasir tersebut, maka ia akan menjadi manusia sempurna. Karenanya, manusia adalah makhluk yang mampu menjadi kholifatullah fil ardh. Dan ketika Adam diturunkan ke muka bumi, malaikat mengusir banuu jan, lalu mereka menempati pulau-pulau (lautan) yang ada.
Maka wajar, ketika para ilmuwan melalui penelitian panjangnya menghasilkan kesimpulan adanya manusia purba. Salah satu teori termasyhur _meskipun telah terbantah dan terpatahkan_ tentang asal mula manusia adalah teori evolusi Darwin yang mengatakan bahwa manusia merupakan hasil evolusi dari kera. Kiranya teori tersebut tidaklah 100% salah jika ditinjau dari sejarah di atas. Kera yang dimaksud oleh Darwin mungkin saja hanyalah istilah bagi makhluk pra-manusia.
Ada beberapa hadits mengenai Adam dan jika disusun secara tertib ini merupakan evolusi manusia dari pertama hingga kini. Pertama bahwa Adam adalah manusia pertama berumur 1000 tahun. Kedua bahwa Adam berjumlah 10000 dan masing-masing berumur 1000 tahun pula. Hingga Adam terakhir yang melahirkan Habil dan Qobil; Adam yang menjadi bapak manusia. Terkait umur dan ukuran tubuh manusia juga mengalami evolusi. Di mana era Adam AS manusia berumur 1000 tahun dengan tinggi 60 dziro’(30 m) dan lingkar tubuh 15 m. Lalu era Nuh AS umur 900 tahun, era Ibrahim 350 tahun, era Musa AS 120 tahun hingga era Nabi putra padang pasir, sang revolusioner dunia; Muhammad saw 63 tahun.
Dari sejarah al-Qur’an ini, maka tidak heran jika kehidupan manusia tidak terlepas dari hal-hal gaib. Karena memang bumi Allah ini telah lama dihuni Banuu Jan jauh sebelum manusia lahir. Dan perlu diketahui bahwa Banuu Jan sakit hati karena diusir dari bumi oleh sebab manusia lebih dipercaya dapat menjadi kholifatullah fil ardh. Sebab itu, mereka (Banuu Jan) berikrar pada Tuhan akan mengganggu manusia, menyesatkan mereka sesesat-sesatnya ilaa yaumil qiyaamah, kecuali hambaNya yang ikhlas. Dapat diasumsikan bahwa Indonesia adalah belahan bumi di mana Banuu Jan paling banyak tinggal di dalamnya. Karena itu juga gunung berapi terbanyak di dunia ini terdapat di Indonesia. Ini membuktikan betapa besar pengaruh Banuu Jan pada manusia Indonesia.
Hal tersebut di atas yang melatarbelakangi munculnya semacam tahlil dan sedekah yang dibingkai dalam beragam frame di setiap daerahnya. Itu semua tak lebih untuk meminimalisir pengaruh Banuu Jan dalam menguasai manusia kemudian menyesatkan mereka. Dari sini, berbagai ritual yang dilaksanakan warga Negara Indonesia seperti kenduri di hari-hari tertentu dari kelahiran dan kematian, tasyakuran saat pindah rumah atau menempati wilayah baru. Semua itu tidak lain untuk minta izin pada penghuni sebelumnya sebagai bentuk penghormatan dan menjaga tali silaturrahim untuk bersama beribadah kepada Sang Kholiq; Allah swt.
Diskusi di Pesantren Global Agus Sunyoto
bersama mahasiswa fakultas ilmu budaya UB dan aktivis PMII Rayon Perjuangan “Ibnu Aqil”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tanamkan Swasensor pada Setiap Individu


Sebuah sms penawaran ikut diskusi tiba-tiba membangunkanku dari lamunan di pagi itu, mata masih ngantuk namun harus duduk diam sambil mendengarkan ceramah rutin. Karena hari sabtu aku free, maka ku setujui untuk join. Sebuah Sosialisasi dan Diskusi Lembaga Sensor Film (LSF) dengan tema “Memasyarakatkan Kesadaran Swasensor Pertunjukan Film dan Tayangan Televisi” yang sekaligus merupakan sebuah harapan guna memperbaiki moral bangsa yang sudah terlanjur bejat hampir di semua lini kehidupan.
Bertempat di Hotel Santika, jalan Letjend Sutoyo 79 acara yang diselenggarakan oleh LSF bekerjasama dengan Organisasi Lembah Ibarat dan Universitas Airlangga Surabaya terkesan elit. Hadir di tengah-tengah diskusi tokoh-tokoh pemerintahan, ilmuwan dan kaum intelektual muda dari kalangan mahasiswa. Prof. Dr. Djoko Saryono, dr. Lenggang Kencana n, MARS, Agus Sunyoto, M. Pd dan Drs. Dzulkifli Akbar mengawali diskusi dengan menyampaikan materi dari perspektif keilmuan masing-masing. Dengan dimoderatori oleh A. Widyastuti, SH terjadi timbal balik yang baik antara pemateri dengan audiens sehingga diskusi terasa hidup dan tidak membosankan.
Miris memang jika kita menyaksikan bagaimana dampak negatif perkembangan media massa telah merasuki setiap jiwa, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa pun demikian. “Dahulu, kerja LSF bisa dikatakan ringan karena film masih dikemas dalam bentuk rol. Namun sekarang, sudah kerja ekstra keras namun masih juga kewalahan.” Keluh Bapak Drs. Nunus Supardi wakil ketua LSF dalam sambutannya.
Tidak heran beliau menyampaikan hal tersebut dalam forum karena realita memang demikian. Jika dibandingkan dengan zaman dahulu, saat media massa maksimal berada pada level televisi, mungkin kesadaran swasensor tidak harus tertanam pada masing-masing individu. Pasalnya, saat ini IPTEK kian canggih. Untuk nonton film tidak harus di televisi, cukup dengan membawa flash disk yang ukurannya kian hari kian mengecil lalu mencolokkannya di laptop, film dengan segala tetek bengeknya dapat dinikmati. Berbagai illegal film tersebar di seluruh penjuru dunia melalui internet. Siapapun dapat mengaksesnya. Film-film tersebut tidak melalui LSF sehingga tampil apa adanya, tak ada satu adegan pun tersensor. Padahal, tidak sedikit film-film tersebut memuat adegan-adegan yang tidak layak untuk dikonsumsi masyarakat terlebih mereka yang berada di bawah umur. Adegan-adegan yang pelan-pelan namun pasti tidak sekedar menjadi tontonan namun juga tuntunan.
Anak muda adalah individu paling rawan terbawa arus. Karena kondisi psikologis mereka yang memang masih labil. Di sinilah, perlu adanya kesadaran swasensor dari masing-masing individu untuk mengetahui dan dapat memilah-milah mana yang baik untuk dikonsumsi dan mana yang tidak. Peran orang tua, guru dan lingkungan sangat berpengaruh sebagai suri teladan yang baik bagi anak-anaknya. Karena itu, sangat disayangkan saat guru yang harusnya digugu lan ditiru dan orang tua yang harusnya mengontrol perilaku anak-anaknya kok malah pelaku amoral. Na’udzubillah min dzalik!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS