Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Perempuan dan Konstruk Sosial

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki masih saja diperdebatkan. Sepertinya ini adalah topik yang tak akan pernah usang di setiap masa. Superioritas laki-laki atas perempuan memancing munculnya berbagai teori. Mulai teori psikoanalisa yang menyatakan  bahwa perilaku dan kepribadian perempuan dan laki-laki sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas, teori fungsionalis structural yang mengkonsepsikan laki-laki bertugas untuk mengurusi urusan luar (external world) sementara perempuan bertugas mengurus internal anggota keluarga, teori konflik yang berangkat dari asumsi bahwa siapa yang memiliki dan menguasai sumber-sumber produksi dan distribusi dalam suatu masyarakat maka merekalah yang memiliki peluang untuk memainkan peran utama di dalamnya, teori feminis yang masih terbagi lagi ke dalam beberapa kelompok, seperti: feminisme liberal, marxis-sosialis dan radikal, hingga teori sosio-biologis yang menyatakan bahwa pengaturan peran jenis kelamin tercermin dari “biogram” dasar yang diwarisi manusia modern dari nenek moyang primat dan hominid mereka. Kesemua teori tersebut memiliki sudut pandang dan landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Terlepas dari berbagai teori yang ada, menurut hemat saya, secara kodrati perempuan dan laki-laki memang berbeda. Kita tidak bisa memaksakan keduanya untuk sama. Perempuan dicipta dengan vagina sebagai alat seks dan laki-laki dicipta dengan penisnya. Tuhan menciptakan keduanya berpasangan guna saling melengkapi bukan saling merendahkan. Laki-laki membutuhkan perempuan demikian sebaliknya. Laki-laki tetaplah laki-laki dan perempuan tetaplah perempuan. Dari hubungan antara keduanya lah lahir manusia-manusia selanjutnya.
Beralih ke sudut pandang sosial budaya, saya pun mempunyai pandangan lain. Dalam hal ini saya sepakat bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama, yakni sama-sama memiliki kesempatan untuk berperan. Tidak ada superior atau pun inferior. Namun selama ini paradigma masyarakat bahwa laki-laki superior sedang perempuan inferior adalah benar adanya. Nyatanya masih saja external world dikuasai oleh laki-laki. Ini dapat kita saksikan pada pemilu tahun 2004 lalu, keikutsertaan perempuan dalam dunia politik tergolong rendah, hanya mencapai 11.3%. Padahal, Indonesia sendiri telah memberikan ruang bagi perempuan untuk turut aktif berpartisipasi dalam dunia politik. Undang-undang pemilu No. 12/2003 menyebutkan pentingnya aksi afirmasi bagi partisipasi politik perempuan dengan menetapkan jumlah 30% dari seluruh calon partai politik pada parlemen di tingkat nasional maupun lokal. Namun demikian, ini belum terealisasi secara maksimal.
Untuk membuktikan bahwa perempuan juga mampu adalah dengan membuka paradigma dan mindset yang bercermin pada budaya patriarki. Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang tak mampu berbuat layaknya laki-laki. Seolah-olah perempuan adalah makhluk yang dicipta hanya untuk mengurusi hal-hal yang bersifat domestik saja. Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang laki-laki dan perempuan seringkali dimaknai secara leterlek tanpa memandang aspek lain sehingga memunculkan makna seakan al-Qur’an sendiri mendukung adanya superioritas laki-laki atas perempuan. Dan hal seperti ini seringkali digelontorkan oleh kaum orientalis yang secara sengaja ingin mencari kelemahan Islam dan berhasrat untuk menghancurkannya.
Ironisnya, pendapat ini seringkali diamini oleh mayoritas masyarakat kita. Padahal, jika mau mengkaji lebih dalam dan menengok pada sejarah masa silam, yakni masa jahiliyah, Islam datang salah satunya untuk mengangkat derajat perempuan yang di masa itu dianggap sebagai musibah dan aib keluarga sampai-sampai malu ketika mempunyai keturunan seorang perempuan. 
Islam mengajarkan bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang memiliki kesetaraan dengan kaum adam secara sosial, politik dan budaya. Kita bisa menengok, bagaimana sayyidah Khodijah r.a menjadi seorang pedagang sukses di masanya, bagaimana sayyidah Aisyah r.a mengikuti peperangan bersama baginda Rosul, dan masih banyak lagi perempuan yang berperan dalam bidang sosial, budaya dan politik. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat kita hari ini keluar dari konstuk sosial yang menganggap bahwa perempuan inferior. Sekali lagi perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk berperan, baik dalam external world maupun internal world. Selamat berjuang wahai kaum hawa!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar