Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Secangkir sholawat untuk Nabi



Irama ketukan alat musik Banjari bertalu-talu, mengalun indah mengawali peringatan maulid Nabi Muhammad saw yang dihelat oleh Dewan Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Kepanjen (03/03). “Meski cukup telat, semoga peringatan maulid ini tidak berkurang maknanya.” Ungkap Diana Manzila, ketua pelaksana dalam sambutannya. Ach. Dzofir Zuhry, pendiri STF Al-Farabi menguatkan, “Tak ada kata terlambat untuk menghadirkan mahabbah pada Rasulullah. Bahkan memperingatinya setiap saat merupakan sebuah keharusan. Sengaja peringatan ini diakhirkan agar kita tidak terjebak pada formalitas, bahwa memperingati Maulid Nabi hanya momentum saja.”
Tak seperti perayaan formal pada umumnya, peringatan ini disajikan dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan. Antar panitia bahkan ketua STF Al-Farabi, bahu membahu guna menyukseskan acara ini. Orientasi utama bukan bagaimana acara berlangsung tanpa cela, namun bersama belajar menyuguhkan sebuah acara dengan sebaik mungkin, bagaimanapun hasilnya. Tahap demi tahap acara dilewati dengan canda tawa ilmiah namun tak mengurangi kekhidmatan dan kekhusyu’an dalam bersholawat atas sang revolusioner zaman. Beragam jenis sholawat dikumandangkan bersama guna memuja dan memuji nuur ‘ala nuur (cahaya di atas cahaya), mulai lirik-lirik qasidah murni seperti Maulid Syaraful Anam hingga yang bercorak perpaduan prosa-qasidah seperti Maulid Ad-dhiba’I karya Al-Imam Abdurrahman bin Ali Ad-Diba’I Asy-Syaibani Az-Zubaidi. Tak lupa iringan musik dari grup al-banjari ‘Rijalul Anshor’ Raden Rahmat menambah ghiroh bersholawat kian bertambah dan suasana pun mengharu-biru.
Sangat cocok kiranya jika tema yang dikutip oleh panitia malam itu adalah “Secangkir Sholawat untuk Nabi”. Meski secangkir, bukan segelas atau sebotol, namun sarat akan cinta dan kasih atas manusia paripurna yang mengajari umatnya untuk lebih beradab, berbudi dan bijaksana. Peringatan maulid ini bukan sekedar formalitas, namun terdapat harapan besar di dalamnya. Harapan agar pasca peringatan ini, bersholawat atas nabi bukan hanya dilantunkan pada majlis-majlis formal saja, namun kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun.
Bukan hanya membiasakan sholawat yang dianjurkan, lebih utama lagi memahami siroh nabi, mempelajari jejak langkahnya, untuk kemudian mengikuti dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. “Siapapun bisa memuji Kanjeng Nabi dengan bersholawat, namun, menghadirkan tutur, tindak dan tanduk nabi dalam tutur, tindak dan tanduk manusia saat ini, itu yang sulit.” Tutur Rusydi asy’ari di tengah tausiah intelektualnya. Dengan ekspresi miris bercampur pedih, “Entah apa yang tengah melanda manusia zaman ini, mereka bernyanyi mendendangkan pujian-pujian atas kekasih pujaan hati melalui segala jenis musik, baik itu dangdut, rock, pop maupun jez, tapi banyak yang membid’ahkan pujian atas nabi.” Lanjutnya.
Seluruh anggota majlis, mengangguk-anggukan kepala mengamini. Menyadari betapa sombongnya kita untuk tidak berakrab-akraban dengan dzu syafa’ah, seolah tak lagi membutuhkan percikan syafa’atnya kelak di hari yang tiada pertolongan selain dari syafa’atnya. Semoga kesadaran ini tetap bertahan dan istiqomah. Amiin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar