Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Mimpi Si Kecil


Seorang anak kecil, ia bermimpi, suatu saat nanti, kala usianya telah dewasa, kala ia mampu berbuat untuk kehidupan, kala pemikiran dan tangannya mampu membuahkan karya, pertama-tama yang ia ingin ciptakan adalah sebuah siklus kehidupan yang begitu indah, nyaman, tentram. Ia inginkan hidup yang dilingkupi kebahagiaan, kesejahteraan dan kehangatan dalam kebersamaan. Ibarat music dan lirik yang mengalun, senada seirama, yang keindahan dan kemerduannya tak hanya dapat dinikmati oleh penciptanya seorang, namun juga oleh siapa saja yang memainkannya, mendengarkannya, menari karenanya dan tenggelam dalam kesyahduan.

Ia inginkan kehidupan di sebuah desa kecil, sebuah desa dengan tanahnya yang subur, air sungai mengalir jernih, mengairi ladang dan sawah, bunga-bunga bermekaran, padi tumbuh dan menguning, pohon-pohon kelapa tinggi menjulang langitNya yang biru, burung-burung terbang mencari penghidupan, tikus, ular, ulat, jangkrik, semua mempertahankan hidup dengan memakan sebagian dari tanaman milik pak tani, semua hidup berdampingan demi menjalani hidup yang telah dianugerahkanNya. Hewan, tumbuhan, manusia dan seluruh alam menyatu. Manusia sebagai satu-satunya makhluk yang berakal memahami  betul siklus makhluk lainnya sehingga mengerti bagaimana memperlakukan mereka, membiarkan mereka mendapatkan haknya. Pak Tani dan Bu Tani hilir mudik dari ladang ke sawah dan rumah.

Di siang hari, gubuk-gubuk terasa hidup oleh celoteh Bapak Ibu Tani yang tengah beristirahat dari pekerjaannya, mereka buka bungkusan bekal yang dibawa dari rumah, nasi berbungkus daun pisang dengan lauk sederhana hasil dari alam, ada tahu, tempe dan  tak lupa kulupan sayur-mayur, satu botol minuman berisi kopi hitam menambah kenikmatan makan siang. Semilir angin yang berhembus mengeringkan keringat yang mengucur, menerbangkan segala lelah dan membawa kembali kesegaran. Bu Tani lebih dulu pergi ke sungai, membersihkan diri dan mengambil air wudlu. Pak Tani, sebelum menyusul istrinya memimpin sembahyang dhuhur, mengeluarkan sebungkus kecil plastic hitam, diambilnya kertas persegi panjang putih, ditaburkan tembakau dan cengkih di atasnya, digulung dan dipelintirnya kertas putih itu dengan kedua telapak tangannya hingga membentuk sebuah batang rokok. Lalu ia keluarkan korek api dari sakunya, ia nyalakan ramuan tembakau dan asap pun mengepul dari mulut dan lubang hidungnya.

Usai sembahyang, Pak Tani dan Bu Tani kembali bekerja. Terdengar teriakan anak-anak sepulang sekolah memanggil-manggil, “Pak Bejo, Pak Rebo, Lek Sumirah”. Bapak Ibu Tani melambaikan tangan, melempar senyum, menyahut panggilan anak-anak, menyuruh mereka pulang, makan siang, istirahat dan pergi ngaji di sore nanti. Tapi anak-anak, mereka bukan robot yang melakukan apapun yang diinstruksikan. Mereka justru bermain-main di sepanjang jalan, tak jarang beberapa dari mereka justru menjeburkan diri ke sungai, menikmati segarnya air sungai yang mengalir. Lalu dalam kondisi basah kuyup mereka pulang ke rumah, berkejaran satu sama lain dengan menenteng sepatu dan tas di kedua belah tangan. Panasnya terik matahari yang membakar tubuh, mereka anggap sebagai sahabat yang selalu setia menemani hari-hari. Tajamnya batu makadam membuat kaki mereka kian kuat dan terlatih.

Sore hari, anak-anak itu menggiring kambing, sapi dan kerbau mereka ke ladang. Membiarkan hewan piaraan mereka bebas merumput dan berlarian di ladang. sembari menunggu hewan piaraan, mereka bermain-main, menyanyikan tembang-tembang, bersahut-sahutan satu sama lain. Jika saat-saat ujian sekolah, tak jarang mereka membawa buku dan saling tebak-tebakan. Menjelang senja, mereka menggiring hewan piaraan kembali ke kandangnya, lalu pulang ke rumah dan bersih diri. Bersama orang tuanya, anak-anak itu berduyun-duyun ke masjid desa. Usai sembahyang maghrib, para orang tua kembali ke rumah, sedang anak-anak, mereka ngaji ke guru TPQ.

Kehidupan seperti itu terus dan terus berlangsung, tak ada satupun dari mereka bersaing untuk menjadi yang paling kaya, yang paling terhormat atau yang paling pandai. Mereka saling bergandeng tangan, bahu membahu, bergotong royong menciptakan kehidupan yang damai dan tentram. Tak ada kebencian, iri, atau niatan saling menjatuhkan, yang ada hanyalah saling mengerti meski perbedaan bertebaran, Musyawarah mufakat selalu menjadi azaz utama dalam kehidupan bermasyarakat. Yang kaya membantu yang miskin, yang pandai mengajari yang belum tahu,, orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya, guru digugu lan ditiru, pemimpin masyarakat berbuat jujur dan adil, selalu mementingkan kepentingan bersama, ah… alangkah indahnya., semua berjalan dalam harmoni kehidupan.

Mimpi itu terus digenggamnya. Anak itu menggenggam mimpinya erat, dan tak pernah ingin melepasnya, hingga suatu ketika, kala ia tengah menginjak usia dewasa, kala ia melihat realita kehidupan di luar sana, ia merasa dunia menjadi begitu kejam, begitu brutal, menindas yang miskin, menindas yang tak beruang, menindas yang tak berdaya, sesama saudara berebut harta warisan, sesama pejabat saling menelikung, sesama pengusaha saling menyingkirkan demi lolosnya tender, sesama selebriti saling fitnah, sesama pencipta saling klaim karya, guru tak lagi memiliki waskita, alam dieksploitasi, kekayaan Negara digerogoti, dokter tak lagi mau menyentuh mereka yang miskin, sekolah tak lagi sudi menerima siswa tak berduit, individualisme meracuni, kapitalisme menjadi panutan, uang dijadikan Tuhan. Kehidupan dunia menjadi kian menakutkan.

Dalam termangu ia bergumam, “mungkinkah mimpiku menjadi nyata?”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar