Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Egrang



Egrang, salah satu permainan tradisional yang belum dapat dideteksi dengan pasti asal-usulnya. Biasanya permainan ini banyak ditemui di desa-desa. Di beberapa daerah tertentu permainan ini dapat kita temui dengan nama yang beragam, seperti: sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang.
Saat ini egrang dan permainan tradisional sejenis kian redup tergantikan oleh berbagai permainan modern mutakhir. Meski untuk membelinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun demi melihat sang anak tersenyum bahagia, maka rela tak rela orang tua akan membelinya untuk buah hati tercinta. Paradigma masyarakat telah tergiring, terkonstruk, bahwa permainan tradisional itu kuno, ketinggalan zaman, katrok, ndeso dan seterusnya. Padahal, jika mau berpikir lebih jauh dan mencoba menganalisa apa maksud di balik semua, tak lain dan tak bukan adalah bisnis kaum kapitalis, yang menjadikan masyarakat kita konsumen atas produk-produk yang ditelurkan Barat. 
Dengan harga melangit, permainan ini digelontorkan. Selain mencekik leher dan menguras kantong, yang lebih membahayakan lagi, permainan ini menyebabkan anak lupa waktu. Bermain dan bermain yang diinginkan. Permainan visioner yang sengaja dihadirkan guna merusak moral anak dan remaja kita. Berbagai adegan kekerasan dapat kita temukan dalam permainan. Masa kanak-kanak adalah masa di mana mereka masih suka meniru apa yang dilihatnya. Di sinilah, peran orang tua sangat diperlukan. Bimbingan orang tua harus senantiasa diberikan dalam proses perkembangan anak jika tak ingin anaknya terjatuh dalam lembah kelam Efek Globalisasi.
Selain itu, sebisa mungkin orang tua harus tetap memperkenalkan permainan-permainan tradisional kepada anak. Dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar, anak diajari untuk kreatif menciptakan beragam jenis permainan. Permainan sederhana yang memuat nilai-nilai moralitas dan dapat diperoleh dengan tanpa harus menguras kantong.
Di tengah derasnya permainan produk Barat, hari ini, di desa Sepanjang, sepulang dari sekolah aku melihat dua orang anak sedang asyik bermain egrang. Dengan modal bambu kering yang sudah tak dipakai mereka dapat menikmati asyiknya bermain egrang. Lahan bermain yang terlampau sempit pun tak membuat mereka kehilangan tawa.
 Sejenak ku ikut bermain, ingin mencoba, tapi sepertinya bambu yang dipakaitak kuasa jika harus menahan berat badanku, hehe...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar